Buta Aksara di Indonesia


Buta aksara merupakan buta terhadap membaca huruf-huruf, sehingga masyarakat tidak dapat membaca huruf. Mereka hanya bisa mengerti pembicaraan yang dibicarakan tanpa mengetahui bagaimana penulisan dari kata-kata yang di bicarakannya. Hal itu sungguh disayangkan sekali, karena dampak buruknya mereka yang buta aksara dapat di bohongi atau bahkan dibodohi oleh orang disekelilingnya. Oleh karena itu, pemerintah sudah berkaca dengan kondisi masyarakat lampau yang sangat tinggi angka buta aksaranya. Meskipun zaman sudah semakin maju, tetapi tingkat buta aksara di Indonesia masih ada bahkan lumayan banyak khususnya di daerah gterpencil yang sulit untuk dijangkau oleh fasilitas pendidikan dan ekonomi yang dibawah rata-rata kesejahteraan.

Direktur Pendidikan Kesetaraan Direktorat Jenderal Pendidikan Non formal dan Informal Kementrian Pendidikan Nasional, Hamid Muhammad mengatakan, setiap tahunnya sebanyak 880.000 anak di Indonesia berpotensi untuk menambah angka buta aksara.”Jumlah tersebut diperkirakan berasal dari anak-anak di daerah terpencil sekitar 300.000 orang dan 580.000 orang anak sekolah dasar putus sekolah,” katanya di Medan disela kegiatan Semi Loka Karya Pendidikan Masyarakat Terintegritas Dengan Aksara Perdamaian.
Menurut dia, sumber dan potensi buta aksara hingga saat ini belum bisa diselesaikan termasuk anak usia sekolah yang belum pernah mendapatkan pelayanan pendidikan seperti anak jalanan, anak- anak di daerah terpencil.
Selain itu, lanjutnya, jumlah anak SD yang Drop Out (DO) di kelas 1-3 jumlahnya juga sangat besar mencapai 1,7 persen dari 1,29 juta siswa kelas 1-3 SD atau sekitar 580.000 anak. Untuk mengatasi itu, pihaknya memiliki program agar anak-anak yang DO itu ditarik kembali untuk sekolah atau dimasukkan dalam program kesetaraan. “Setiap tahun 880.000 anak Indonesia berpotensi buta aksara, jumlah ini belum termasuk angka buta aksara yang ada saat ini. Jika sumber buta aksara ini tidak bisa diselesaikan maka sampai kapanpun Indonesia tidak akan pernah lepas dari buta aksara,” katanya. Ia mengatakan, angka buta aksara yang ada saat ini di Indonesia mencapai 8,4 juta. Sebanyak 5,46 persen jiwa diantaranya adalah perempuan dengan usia rata-rata diatas 40 tahun. Dewasa ini, Sumatera merupakan salah satu daerah yang cukup berhasil dalam mengentaskan buta aksara yang saat ini berada dibawah 5 persen dari jumlah buta aksara di Indonesia atau dibawah 420.000 orang. “Intinya untuk mengurangi jumlah buta aksara tersebut dibutuhkan kerja sama semua pihak, bukan hanya pemerintah tetapi juga pihak swasta sangat diharapkan peran sertanya,” (formatnews.com).

Kepala Balai Pengembangan Pendidikan Anak Usia Dini Pendidikan Nonformal dan Informal Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, menyatakan hingga kini sebanyak 3,6 juta warga Indonesia masih buta aksara. Namun, menurut dia, angka tersebut sudah berkurang dibanding tahun-tahun sebelumnya.
“Terus menurun, dan secara nasional tinggal 4,53 persen atau sekitar 3,6 juta jiwa dengan kelompok usia 15-59 tahun,” kata dia dalam acara Seminar Nasional “Keberaksaraan Masyarakat dalam Pusaran Pembangunan” Dia menambahkan, provinsi yang memiliki warga buta aksara paling banyak adalah Provinsi Nusa Tenggara Barat, sebanyak 16,48 persen, Nusa Tenggara Timur 10,13 persen, Sulawesi Barat 10,33 persen, dan Papua 36,31 persen. Masalah buta aksara ini membutuhkan peran semua elemen masyarakat dan dibutuhkan komitmen kuat agar bisa lepas dari buta aksara (www.tempo.co)

Untuk menuntaskan program buta aksara, tahun ini Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini Non Formal Informal (PAUDNI), mengganggarkan bantuan sebesar Rp48,01 miliar. Bantuan ini diprioritaskan bagi daerah terpadat buta aksara di Indonesia, yakni Jawa Timur, Jawa Tengah, Papua Barat, Papua, Nusa Tenggara Timur (NTT), Nusa Tengggara Barat (NTB), Sulawesi Tenggara.
Di provinsi-provinsi tersebut terdapat 34 kabupaten/kota yang memiliki angka buta aksara tertinggi.  “Penduduk buta aksara umumnya tinggal di daerah perdesaan seperti petani kecil, buruh, nelayan dan kelompok masyarakat miskin perkotaan,” kata Dirjen Pendidikan Anak Usia Dini Non Formal Informal (PAUDNI) Lydia Freyani Hawadie di Jakarta. Sebelumnya, UNESCO Instutite for Lifelong Learning (UIL), menjadikan Indonesia sebagai panutan (role model) pemberantasan tuna aksara. Indonesia berhasil menuntaskan target pemberantasan tuna aksara lebih cepat. Indonesia mendapat gelar kehormatan ini karena target penyandang buta aksara sebesar 7,5 juta orang pada tahun 2015, sudah dapat dituntaskan pada tahun 2010. Bahkan, pada tahun 2011, jumlah buta aksara sudah berkurang menjadi 6,7 juta orang (nasional.sindonews.com).

Buta aksara diharapkan dapat diatasi dengan memberikan pengajaran terhadap masyarakat, khususnya masyarakat dipedalaman yang tidak memiliki latar belakang pendidikan untuk memberi pengajaran bahkan untuk sekedar membaca dan menulis. Buta aksara memang harus dikurangi, dicegah dan dihilangkan dari tanah air, untuk memberikan kesempatan dan peluang untuk kesejahteraan kehidupan masyarakat tersebut.

Referensi:

http://formatnews.com/v1/view.php?newsid=49584

http://www.tempo.co/read/news/2013/11/29/079533298/36-Juta-Warga-Indonesia-Masih-Buta-Aksara

http://nasional.sindonews.com/read/2013/08/21/15/773522/berantas-buta-aksara-indonesia-gelontorkan-rp48-01-miliar

 

 

Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s