Tokoh inspirasi


Tokoh Muda Yang Memberi Inspirasi

Pasti semua sudah pernah dengar kan yang namanya Kaskus, komunitas forum terbesar di Indonesia. wah ternyata foundernya masih muda-muda. Sempat dilirik Yahoo dan Microsot juga loh. Mengapa saya memilih artikel tentang biografi tentang founder Kaskus pada tugas IBD saya, karena penemu Kaskus ini, yaitu Andrew Darwis telah memberi inspirasi bagi kaum muda-mudi di Negara Indonesia yang kreatif dalam membuat web.
Kaskus, salah satu sarana untuk mencari, menjual, atau bahkan membeli barang dengan online, dengan adanya kaskus para muda – mudi di permudah untuk melakukan transaksi bisnis yang pastinya memberikan keuntungan, bagi generasi muda Indonesia yang senang membuat web, buatlah web yang unik dan beda dari yang lain, seperti kaskus ini. Seperti yang di bilang oleh Andrew “ Jangan berfikir untuk membuat sesuatu yang besar, kita musti punya passion, jangan di tengah jalan terus mundur.

Berikut dikutip dari posting di forum kaskus:
Nama: Andrew Darwis
Lahir : Jakarta, 20 Juli 1979
Kuliah: Computer Science, Seattle University
Nama: Ken Dean Lawadinata
Lahir: Jakarta, 6 Januari 1986
Kuliah: Finance, Seattle University
Awalnya Andrew Darwis mendirikan Kaskus bertujuan untuk mengembangkan hobinya berkomunitas di dunia maya. Namun kini, Kaskus menjadi situs komunitas terbesar di Indonesia.

“Awalnya Kaskus dibuat untuk menyalurkan hobi berkomunitas saya di internet,” katanya. Obsesi terbesarnya sejak awal masa kuliah di Amerika Serikat pada 1999 itu, sulit tercapai, karena tak ada satu pun situs komunitas di Indonesia.

Pada awalnya perjalanan bisnis Kaskus sangat lambat, untuk menggaet anggota satu orang saja, butuh waktu lama. Bayangkan, dalam seminggu saja mereka hanya mampu mengundang paling banyak tiga orang. Kondisi itu bertahan selama mereka sekolah dan bekerja di AS.

Kemudian, setelah perkembangan internet semakin pesat di Indonesia, dua sekawan itu bersepakat pulang ke Indonesia untuk mengelola situs komunitas di negerinya sendiri. Dari sebuah kantor di kawasan Jakarta Kota, awal 2008, mereka bahu membahu mengelola situs. Dua bulan berselang, Kaskus resmi menjadi perusahaan profesional dengan nama PT Darta Media Indonesia.

Setelah itu, Kaskus terus berbenah. Bersama timnya, Andrew tak segan turun langsung menangani perusahaan hingga ke masalah promosi. Pada enam bulan pertama sejak menjadi perusahaan profesional, perkembangan Kaskus terbilang stagnan.

Namun dengan perjuangan keras, kondisi sulit itu berubah membaik, hingga akhir 2008. Darwis mengklaim, jumlah anggota komunitasnya tumbuh empat kali lipat dari semula. Jumlah itu membuat keanggotaan Kaskus yang berasal dari seluruh dunia menjadi yang terbanyak dibanding siapa pun dan tanpa dipetakan kisarannya.

Saat ini keanggotaan yang masuk ke kaskus mencapai 1,1 juta orang. Tidak hanya mampu menggaet anggota baru dalam kisaran 150-250 orang per hari, banyak kaskuser (anggota komunitas Kaskus) yang sudah bertahun-tahun menjadi anggota, tetap setia aktif menjadi anggota.

Dari sekian banyak konten dalam Kaskus.us, tanpa ragu Andrew menyebut konten Jual Beli dan Lounge sebagai terfavorit dikunjungi kaskuser. Para kaskuser yang berasal dari seluruh pelosok Indonesia itu bisa memanfaatkan konten ini untuk transaksi bisnis online. Dalam sehari saja, 80 ribu daftar barang, diikutkan dalam forum jual beli (FJB).

Karena terus tumbuh, pemasukan iklan ke perusahaan pun mengalir. Kata Andrew, awalnya konten iklan sangat sulit didapat karena banyak perusahaan yang tidak mengenal Kaskus.

Namun, karena usaha keras dan upaya mengenalkan Kaskus ke publik secara terus menerus, perusahaan-perusahaan yang ingin mengiklankan produknya dalam kasus terus meningkat dan bahkan banyak yang masuk daftar tunggu.

Andrew Darwis mendirikan Kaskus pada 6 November 1999. Bermula dari pengalamannya saat menimba ilmu di salah satu universitas terkemuka di Negeri Paman Sam, Seattle University, Program Studi Multimedia & Web Design, Art Institute of Seattle Computer Science di tahun 1999, pria yang disapa Andrew ini terinspirasi membuat website forum komunitas yang bisa di bilang menjadi yang terbesar di Indonesia. Sebelum ke AS, dia sebetulnya sudah merasakan gajian dengan kerja paruh waktu di perusahaan Web Design di Jakarta. Ada dua perusahaan yang menggunakan jasanya, yaitu kemana.com dan indotradezone.com. Saat itu pada 1998, gajinya Rp 500 ribu, sehingga bisa membantu biaya kuliahnya di Jurusan Manajemen Informasi, Universitas Bina Nusantara.
Pada awal 1999, Andrew merasa butuh sekolah yang lebih fokus lagi, terutama yang bisa mendalami ilmu membuat website. “Tapi nggak ketemu di Indonesia. Sampai akhirnya teman yang sudah sekolah di Amerika kasih tahu bahwa ada di Seattle. Ya sudah saya keluar dari kampus di Jakarta, berangkat ke sana,” ulasnya.
Sambil kuliah untuk mendapat gelar sarjana di Art Institute of Seattle itu Andrew dipekerjakan di bagian perpustakaan kampus dan laboratorium komputer. “Tapi kerjanya nggak teknis komputer. Malah lebih ke beres-beres komputer, isi tinta dan kertas printer, ya begitu begitu saja,” ungkap pria yang matanya minus 1,5 itu.
Begitu kuliah selesai, Andrew mendapat pekerjaan di kota yang sama di perusahaan web design Thor Loki selama tiga tahun dengan gaji per bulan USD 1500. “Gajinya sebetulnya kecil. Karena standar gaji web design di sana itu minimal USD 3000. Tapi berhubung cari kerja susah ya saya ambil,” ujarnya.
Sambil bekerja, Andrew melanjutkan kuliah S2 di Seattle University Jurusan Computer Science. Setelah lulus, dia pindah kerja dengan membangun portal musik, lyrics.com. Otaknya hanya berdua, dia dan bosnya keturunan Vietnam yang sudah menjadi warga AS. “Di sini gajinya jauh lebih besar,” akunya.
Di tengah kesibukan bekerja dan menyelesaikan sekolah itu, Andrew tidak pernah lupa untuk tetap mengembangkan Kaskus sedikit demi sedikit. Sampai akhirnya pada 2008, dia merasa harus pulang dan fokus di Kaskus. “Sebenarnya saat itu kalau mau tinggal di Amerika sudah enak. Sudah punya pekerjaan. Walaupun gaji tidak besar, tapi cukup untuk kredit rumah dan mobil,” ulasnya.
Keyakinan bahwa Kaskus akan besar yang membuat Andrew akhirnya pulang juga. Terlebih dia juga diyakinkan oleh Ken dan Danny bahwa membernya di Indonesia terus meningkat. MENURUT data Alexa (The web information company) terbaru, Kaskus yang merupakan portal berita dan forum komunikasi itu menempati urutan enam dari daftar Top 100 Sites in Indonesia.
Kaskus ada di bawah deretan dominasi portal asing, yaitu facebook.com, google.co.id, google.com, yahoo.com, dan blogger.com. “Maka kaskus adalah situs Indonesia nomor satu,” ujar Andrew Darwis, founder sekaligus Chief Technical Officer (CTO) Kaskus Networks. Kaskus berasal dari kata Kasak-Kusuk atau bermakna bergosip. Dengan modal awal sebesar US$ 3 (Rp 30 ribu) untuk membeli server Andrew dan dua rekannya, Ronald dan Budi, memilih untuk membuat portal yang berisi mengenai berita maupun informasi tentang Indonesia. Portal tersebut sengaja di buat menjadi suatu media untuk memuaskan kerinduan bagi masyarakat Indonesia yang berada di Luar negeri. Manfaatnya adalah semakin membaiknya geliat bisnis online, serta banyaknya orang yang memulai bisnis online dilihat Andrew sebagai potensi besar yang mendukung perkembangan Kaskus. Berdasarkan survey, terdapat lebih dari 40 juta pengguna Internet di Indonesia. Dengan jumlah yang luar biasa tersebut, ia mengasumsikan bahwa masing-masing pengguna Internet adalah target pasar yang potensial.
Kendalanya Andrew mengaku bahwa kendala terberat dialaminya saat awal pembentukan Kaskus. Ia harus turun tangan langsung dan memperbaiki apabila ada server yang down, karena saat itu Andrew belum memiliki karyawan. Selain itu kendala terberat juga dialaminya ketika pindah ke Jakarta, karenai ia harus meyakinkan customer dan advertiser mengenai citra Kaskus.
Pemasarannya Andrew dan timnya di awal usaha harus bergeriliya door to door ke klien untuk memperkenalkan positioning Kaskus dan tidak sampai 1 tahun, Kaskus sudah banyak dipercaya oleh client-client besar yang sudah mendukung Kaskus sejak pertama kali Kaskus launching pada Desember 2008. Berselang 2 bulan kemudian Kaskus resmi menjadi perusahaan professional di bawah bendera PT. Darta Media Indonesia.
Saat ini tercatat Kaskus memiliki 1.755.000 member(update pertanggal 08 Juni 2010 pada pukul 15.30) dan terus bertambah tiap detiknya. Kaskus memiliki target pasar dari usia 15-40 tahun baik kalangan pelajar, mahasiswa, karyawan, professional dan entrepreneur.

Berbagai penghargaan juga diterima oleh Andrew di antaranya The Best Indonesian Communities for 2005 and 2006 versi Alexa.com dan Wikipedia, dari Microsoft dengan nominasi Kaskus Indonesia Innovative Top Web Site di tahun 2008, dan dari Indosat dengan nominasi Kaskus The Online Inspiring Award di tahun 2009
Saat ini untuk me-manage Kaskus, Andrew dibantu 30 orang karyawan yang terbagi dalam tim marketing, sales, IT dan creative. Dari sekian banyak konten dalam Kaskus.us, tanpa ragu Andrew menyebut konten Jual Beli (FJB) dan Lounge sebagai terfavorit dikunjungi kaskuser. Para kaskuser yang berasal dari seluruh pelosok Indonesia itu bisa memanfaatkan konten ini untuk transaksi bisnis online. Dalam sehari saja, 80 ribu daftar barang, diikutkan dalam Forum Jual Beli (FJB).Obsesi yang ingin diraih Andrew untuk pengembangan bisnis online-nya adalah terus mengembangkan content (fasilitas yang ada di dalam website) Di Indonesia, sehingga nantinya orang luar negerilah yang akan membeli content itu.
Sumber: WikipediaDi sela-sela meriahnya acara launching Kaskus AD & dua forum baru dari Kaskus yang bertempat di e’Corner Resto & Lounge, Epicentrum Walk, Jakarta, pada Rabu petang, 25 Agustus 2010 lalu. Kru KotGa mengambil kesempatan untuk mewawancarai Andrew Darwis, founder dan admin dari Kaskus.

Kaskus sendiri merupakan forum diskusi online yang mengklaim dirinya sebagai forum komunitas terbesar di Indonesia. Dari sinilah, kita ketahui bersama menjadi titik awal bagi beberapa gamer yang bersama-sama memulai investigasi tentang kasus pembohongan publik yang dilakukan oleh Eko Ramaditya Adikara.

Mengetahui kebohongan dari Rama, Andrew Darwis mengatakan, “Kaget karena ternyata kok begini. Beberapa waktu lalu, saya melihat dan mengetahui tentang Rama dari Kick Andy di Metro TV. Saat itu, saya merasa bahwa dia hebat karena sebagai orang yang memiliki kekurangan sebagai tuna netra, mampu menciptakan lagu.”

“Namun ternyata belakangan ketahuan bahwa dia berbohong. Yah, saya lumayan kecewa juga. Aduh, kenapa kok sampai berbohong seperti itu, ya,” sambung pria muda yang akrab disapa sebagai Mimin oleh para Kaskuser. “Saya juga mengetahui hal tersebut karena sempat heboh di Kaskus.”

Menurut Andrew, hal tersebut sekaligus juga membuktikan bahwa forum Kaskus menjunjung kebebasan untuk berbicara. Kaskus yang termasuk dalam kategori Web 2.0, membebaskan para Kaskuser untuk memberikan konten di dalam Kaskus yang memfungsikan diri sebagai media atau wadah bagi mereka untuk berkomunikasi.

“Dari sisi Kaskus sebagai media, kami senang bahwa hal (seperti kasus Rama) tersebut berkembang & bermanfaat menjadi edukasi atau pembelajaran. Membuka mata bagi semua pihak dengan diungkapnya hal tersebut di Kaskus melalui segala proses investigasi yang dilakukan para Kaskuser secara detail,” jelasnya lagi.

Andrew menambahkan bahwa para petinggi di Kaskus juga mendukung diskusi yang mengungkap kebohongan Rama tersebut tetap berjalan karena didukung dengan bukti-bukti yang nyata. “Dan akhirnya ketahuan kalau Rama adalah hoax. Merupakan sebuah kebohongan,” ujarnya.

Saat ditanyakan mengenai kesannya atas Kaskus sebagai awal mula pengungkapan kebohongan Rama, Andrew merasakan kebanggaan atas Kaskus secara bersama sebagai komunitas karena sebegitu loyalnya para Kaskuser dalam berusaha mencari, melacak, dan menginvestigasi semuanya atas sebuah kasus.

Tidak hanya dalam hal kasus Rama saja, namun juga di beberapa kasus lain yang pembahasannya sering bermula dari Kaskus. Andrew bertutur, “Kaskus boleh dibilang mainstream, menjadi awal atas segala berita-berita maupun kasus-kasus yang muncul. Seperti black box dari Adam Air atau makhluk air misterius dari Ancol.”

Selain itu, Andrew menekankan bahwa Kaskus juga memiliki tujuan untuk mengembangkan konten lokal di internet. Cita-cita yang ingin dicapai adalah bermunculannya penyedia konten dari Indonesia di internet dalam jumlah banyak, seperti Kaskus sendiri, KotakGame, atau sekelas YouTube dan Facebook.

“Kami ingin mengembangkan yang seperti itu hingga bisa dikonsumsi sebagai konten lokal. Konten punya kita sendiri. Sehingga suatu saat bisa muncul seperti YouTube versi Indonesia yang berkembang secara mendunia dan mengakibatkan orang-orang dari belahan bumi lain akan mengakses ke jaringan Indonesia,” jelasnya.

Menyambung penjelasannya itu, KaskusAD yang di-launch di petang itu adalah salah satu bentuk usaha mereka ke sana. KaskusAD adalah fasilitas pemasangan iklan yang dapat dilakukan langsung oleh para penggunanya. Layanan ini juga menawarkan fleksibilitas dalam penentuan budget dan pemilihan jenis layanan iklan.

Selain itu, masih dalam acara yang sama, juga ditampilkan dua buah forum baru, yaitu Forum Ilmu Marketing dan Forum Fit & Healthy Lifestyle. Kedua forum ini nantinya akan banyak dipandu oleh komunitas Marketeers yang bergerak di bawah payung MarkPlus,Inc dan Ade Rai sebagai kributor.

Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s