Memperbaiki Kondisi Kerja di Industri Garmen


MEMPERBAIKI KONDISI  KERJA DI INDUSTRI GARMEN

MELALUI PENDEKATAN ERGONOMI

 

 

 

PENDAHULUAN

Produk garmen merupakan salah satu komoditi yang sangat potensial untuk dikembangkan di pasar global. Beny Sutrisno(2007)  ketua Asosiasi PertekstilanIndonesiamengungkapkan bahwa kebutuhan produk tekstil dan pakaian jadi (garmen) akan terus meningkat dari tahun ketahun. Seperti yang terlihat dalam gambar 1 berikut:

Gambar 1: estimasi nilai perdagangan tekstil dan pakian jadi dunia

Sumber: Textile word dikutip Beny Sutrisno (2007)

 

Mengingat potensi pasar yang demikian besar maka persaingan produk garmen di pasar duniapun sangat ketat. Eksportir terbesar produk garmen ke pasar dunia berturut-turut adalah: negara-negara yang tergabung dalam uni eropa, china, hongkong,Turki,Mexico,India,Amerika,RomaniadanIndonesia. Untuk itu negara-negara eksportir garmen dituntut untuk memiliki produktifitas, kualitas, dan daya saing yang tinggi.

 

 

 

Secara umum proses pembuatan garmen dapat dilihat dalam gambar 2 berikut ini:

Gambar 2.  Proses prosuksi di industri garmen (www.betterfactory.com)

Proses pembuatan garmen dimulai dari pengecekan kain di ruang penyimpanan kain kemudian proses disain dan pembuatan pola, grading dan marker, kemudian dilanjutkan ke proses pembuatan sample dan pemotongan kemudian dilakukan proses pengepresan. Setelah bagian-bagian yang terpotong tadi dipres maka dilanjutkan ke proses produksi  (penjahitan). Proses penjahitan ini dilakukan per piece (bagian) sehingga untuk menjahit satu kemeja  terkadang bisa mencapai 100 variasi proses penjahitan. Oleh karena iti produksi garmen dikenal dengan proses piece to piece. Setelah dijahit maka dilanjutkan proses penyempurnaan/penyelesaian akhir, seperti pemasangan kancing, label, pembersihan dan penyetrikaan dan kemudian dilakukan pengepakan dan pengiriman ke konsumen

            Karakteristik pekerjaan di industri garmem umumnya adalah  proses material handling (angkat-angkut), posisi kerja duduk dan berdiri, membutuhkan ketelitian cukup tinggi,  tingkat pengulangan kerja tinggi pada satu jenis otot, bertinteraksi dengan benda tajam seperti jarum, gunting dan pisau potong, terjadi paparan panas di bagian pengepresan dan penyetrikaan dan banyaknya debu-debu serat dan aroma khas kain, terpaan kebisingan, getaran, panas dari mesin jahit dan lainnya. Untuk itu desain tempat kerja di industri garmen akan sangat berpengaruh bagi kinerja karyawan. Oleh karena itu  dalam paper ini penulis akan melakukan tinjauan permasalan dan solusi ergonomis untuk memperbaiki kondisi kerja di industri garmen.

EVALUASI ERGONOMI KONDISI KERJA DI INDUSTRI GARMEN

            Studi tentang kondisi kerja di Industri garmen telah cukup banyak dilakukan (Harrison, Tanpa tahun) yaitu:

  1. Penelitian yang dilakukan Vilma 1982 dan Wesgard 1992 melaporkan bahwa operator jahit mengalami gangguan otot yang cukup serius
  2. Penelitian yang dilakukan Punnet (1985) melporjan bahwa sejumalh tenaga kerja garmen mengalami sakit persitent
  3. Penelitian Brisson (1989) menyakan bahaw pekerja garmen meningktakan  gangguan kesehatan kronis dan  ketiadakmampuan secara permanen
  4. Posisi duduk dan tubuh yang tidak baik menimbulkan sakit dan menurunkan produiktifitas
  5. Peningkatan MSD dapat dikurangi dengan kursi yang dapat diatur dan perubahan stasiun kerja (Li 1995 dan Herbert 1997)

 

Permasalahan ergonomi kerja di industri garmen terutama sangat terkait dengan posisi postur tubuh  dan pergelangan tangan yang tidak baik dan harus melakukan pekerjaan yang berulang-ulang pada hanya satu jenis otot  sehingga sangat berpotensi menimbulkan  cumulative trauma disorder (CTD)/ Repetitive Strain Injuries  (RSI) (Work Safe bulletin:1997 dan FoCUS:1999). Zvonko Gradcevic dkk (2002) mengungkapkan bahwa operasi  kerja di bagian penjahitan adalah dari tangan-mesin-tangan dan   sub operasi mesin berdasarkan  cara kerja dan bagian (piece) yang dijahit menurut struktur produk garmennya. Lebih lanjut Zvonko Gradcevic (2002) menggambarkan operasi kerja di bagian penjahitan seperti pada gambar 3 berikut.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Pekerjaan di bagian jahit membutuhkan kordinasi gerakan postur tubuh dan pergelangan tangan yang baik dan  konsentrasi tinggi. Dimana perubahan gerakan ini berlangsung sangat cepat tergantung bagian yang dijahit dan tingginya frekuensi pengulangan gerakan untuk kurun waktu yang lama akan mendorong timbulnya gangguan  interabdominal, mengalami tekanan inersia,  tekanan pada pinggang dan tulang punggung dan tengkuk.

Hong Kong Christian Industrial Committee (2004) melaporkan kondisi Lingkungan kerja di 3 industri  garmen China yang mensuplai produk garmen untuk retail di Jerman adalah sebagai berikut  antara pemilik pabrik dan pekerja kurang memiliki kesadaran tentang keselamatan dan kesehatan kerja. Di ketiga pabrik yang disurvey tidak pernah diadakan latihan untuk penaggulangan kebakaran, para pekerja mengeluhkan kondisi AC (air Condition) dan ventilasi yang tidak baik Penempatan mesin yang terlalu rapat sehingga mengakibatkan peningkatkan suhu di tempat kerja. Para pekerja di bagian penjahitan mengalami alergi kulit dan gangguan pernapasan akibat menjahit beberapa jenis kain yang mempunyai banyak debu kain (floating fiber). Sumber bahaya lain adalah permasalahan ergonomi seperti lamanya waktu kerja (duduk dan berdiri) pengulangan gerakan kerja dan lainnya. Cvetko Z. Trajković, Dragan M. Djordjević, (1999) juga menunjukkan sumber-sumber bahaya potensial yang ada di industri garmen terdapat pada  ruang pemotongan, penjahitan dan finishing.

Kondisi industri garmen di Kamboja (ww.betterfactory.com) juga tidak jauh berbeda seperti dimana ada beberapa permasalahan lingkungan kerja mencakup aspek mekanis, fisik, kimia, biologi dan erghonomi diantaranya adalah:

  1. Penataan tumpukan kain yang kurang baik di gudang penyimpanan sehingga gulungan kain mudah jatuh
  2. Potensi sakit punggung karena mengangkat dan material handling yang tidak benar
  3.  Banyaknya debu debu kain di area pemotongan kain
  4. Bahaya luka yang seri selama penggunaan mesin potong elektrik tanpa pengaman rantai  yang baik
  5.  Tidak adanya pengamanan mesin dan debu kain di area produksi dan finishing
  6. Bahaya zat kimia dan lantai licin pada area pencucian
  7. Pencahayaan yang kurang baik di bagian produksi dan finishing
  8. permasalahan ergonomi pada posisi kerja duduk dan berdiri
  9. Temperatur yang tinggi pada bagian penyetrikaan dan pencucian
  10. Problem kelistrikan dan kebakaran di seluruh bagian

Setiap pekerjaan mengandung resiko kesehatan dan keselamtan. Demikian juga sistem kerja di industri garmen potensi penyakit dan kecelakaan kerja juga sangat tinggi. Seperti yang dilaporkan oleh David Mahone (CNA Insurance Companies, Chicago IL) diantara penyakit kerja yang terkaiat dengan kondisi lingkungan kerja yang tidak baik diantaranya adalah

–          70% operator jahit mengalami sakit punggung

–          35% Melaporkan mengalami low back pain secara persisten

–          25% menderi akibat Cumulative Trauma Disorder (CTD)

–          81%  mengalami CTD pada pergelangan tangan

–          14%  mengalami  CTDs pada siku

–          5%  of CTDs pada bahu

–          49% pekerja mengalami nyeri leher

Sedangkan berdasarkan studi literatur yang dilakukan oleh S Calvin dan  B Joseph (2006) menyatakan bahwa beberapa  potensi bahaya di industri garmen meliputi kecelakaan pada jari tangan (tertusuk jarum), terbakar dan lainnya. Bahaya fisik seperti paparan kebisingan, panas dan pencahayaan dan lainnya.  Sangat sedikit laporan tentang kecelakaan kerja di industri garmen dari berbagai belahan dunia karena kurangnya kesadaran untuk mencatat dan melaporkan terjadinya kecelakaan

Penelitian yang dilakukan oleh P Parimalam dkk (2006) di India  berhasil mengidentifikas gap kondisi  lingkungan kerja, peralatan dan lat kerja di Industri garmen yang disjikan dalam tabel 1. berikut ini:

 

Tabel.1 Identifikasi gap lingkungan kerja, peralatan dan alat kerja di industri garmen

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

David Mahone menyatakan bahwa untuk mengatasi berbagai persoalaan kondisi kerja seperti  potensi timbulnya  penyakit akibat kerja, operasi pekerjaan, jam kerja, psikososial, organisaisi kerja dan hubungannya antara manusia (pekerja), mesin/alat, pekerjaan dan lingkungan kerjanya maka diperlukan pendekatan ergonomi. Kondisi lingkungan yang ergonomis dapat meningkatkan produktivitas dan keselamatan kerja serta mendorong peningkatan daya saing, mengurangi biaya kompensasi untuk pekerja, memberikan daya tahan yang tinggi pada pekerja dan beberapa keuntugan lainnya. Untuk itu bagian selanjutnya dari tulisan ini akan membahs tentang bagaimana memperbaiki kondisi keraj di Industri garmen.

 

MEMPERBAIKI KONDISI  KERJA DI INDUSTRI GARMEN MELALUI PENDEKATAN ERGONOMI

 

            Jenifer Gunning (2001) banyak cara yang dapat digunakan untuk mencegah terjadinya penyakit akibat kerja di industri garmen yang meliputi:

  1. Komunikasi
  2. Melibatkan karyawan dalam pengambilan keputusan
  3. Pendidikan dan pelatihan bagi pekerja dan manajemen tentang strategi pencegahan dan peningkatan lingkungan kerja yang ergonomic.

Lebih lanjut Jenifer Gunning dkk mengungkapkan 5 prinsip dasar dalam bekerja secara ergonomis guna mengurangi ganguan otot yaitu

  1. Gunakan alat yang baik dan sesuai dengan pekerjaan dan pekerja
  2. Meminimkan pengulangan gerakan pada satu jenis otot
  3. Hindari posisi tubuh yang tidak baik
  4. Gunakan teknik angkat-angkut yang benar
  5. Beristirahat secara baik dan benar

 

Sedangkan David Mahone menyatakan untuk meningkatkan kondisi kerja yang ergonomi dapat dilakukan hal-hal sebagai berikut:

    1. Melaksankan program ergonomi yang komprehensif
    2. Melakukan redesign stasiun kerja seperti yang direkomendasikan NIOSH
    3. Peningkatan cara Sistem Kerja
    4. Menggunakan peralatan  material handling yang otomatis
    5. Pengembangan Konsep Modular Manufacturing

Untuk memperbaikai kondisi kerja  industri garmen di India  Parimalam dkk (2006)  merekomendasikan  Meja kerja disarankan dari kayu untuk menghindari bahya elektrik. Beberapa ukuran meja kerja yang disarnkan adalah sperti pad atabel 2 berikut inI

 

 

 

 

Sedangkan untuk meja jahit direkomendasikan tinggi duduk sekitar 41,5 cm untuk wanita dan untuk pria 43 cm dan posisi betis 105º  dari paha ketika menginjak pedal. Dan kursi kerja diberi pelapis (busa untuk) memberi kenyamanan pada pekerja. Meja dan kursi juga harus dapat diatur ketinggiannya dan sudut sandarannya untuk mengurangi sakit pada bahu dan leher (ww.physorg.com). Untuk pencahayaan Parimalam dkk (2006)  merekomendasikan minimum sebesar 400lux untuk general lighting   dan untuk operator jahit di tambahkan pencahayaan lokal. Sedangkan menurut Industrial  Accident Prevention Assosiation (IAPA,2006) untuk pekerjaan menjahit pencahayaan disarankan sekitar 2000-5000 lux. Untuk mengurangi kebisingan perlu dilakukan pemeliharaan, pelumasan dan penggantian spare part secara rutin. Pekerja yang terpapar bising perlu diberikan pelindung telinga ataupun perlu rotasi setiap 4 jam untuk level kebisingan 90 DB. Untuk mengurangi getaran diperlukan isolator getaran misalnya dengan memasang karpet/karet pada kaki-kaki mesin. Diperlukan pemasangan mesin penghisap untuk menghisdap debu kain dan pekerja diberikan masker untuk melindungi dari debu. Jarak antar mesin 4-5 feet untuk meminimalkan paparan panas pada operator jahit.  Di setiap unit perlu disediakan kotak P3K dan orang yang mampu memberikan perawatan/pertologan darurat.

           

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

REFERENSI

Cvetko Z. Trajković, Dragan M. Djordjević, (1999). The Sources Of Dangers And The Character Of Injuries At Work In The Garment Industry. The scientific journal FACTA UNIVERSITATIS Series: Working and Living Environmental Protection Vol. 1, No 4, 1999, pp. 107 – 113. UNIVERSITY OF NIŠ.

 

Dipl. Ing Benny Soetrisno (Ketua Umum Asosiasi Pertekstilan Indonesia), (2007). Peluang, Hambatan Dan Tantangan Industri TPT Nasional; Iklim & Prospek Bisnis 2007, API: Jakarta

 

David Mahone, Ergonomics in the Textile and Apparel Industries, CNA Insurance Companies,ChicagoIl.

FoCUS, 1999. A Stitch In Time Garment Worker Take Action In RSI. Published by the MFL Occupational Health Centre • 102 – 275 Broadway •Winnipeg

 

Industrial Accident Prevention Association IAPA (2006). Lighting at Work. Website: http://www.iapa.ca.

 

Parimalam Paramasivam,( 2006).Ergonomic Intervention To Improve Work Environment In Garmen Manufacture Unit. Indian Journal of Community Medicine Vol 10 Issue 2 Agustus, 2006.ww.ijoem.com

 

 

 

Robert Harrison MD, MPH Robert Harrison MD, MPH.  Preventing, Musculoskeletal, Disorders in Garment Workers, Practical. Clinical Professor of Medicine Clinical Professor of Medicine University of California, San Francisco University of California, San Francisco 415 885 7580. rharris@itsa itsa.ucsf ucsf.edu

 

 

S Calvin dan  B Joseph (2006). Occupation Related Accidents in Selected Garment Industries in Bangalore City, Indian Journal of Community Medicine Vol. 31, No. 3, July – September, 2006.

 

Work Safe Buletin No 188. (1997), Ergonomics In The Garment Manufacturing Industry

 

http://www.betterfactory.com : Chapter Three: General Workplace Conditions, diakses 2 Juni 2007

 

www.physorg.com/news96608587.html. Adjustable chairs reduce shoulder and neck pain in garment workers diakses 2 Juni 2007

 

 

Zvonko Dragcevik dkk (2002), Workload and Standard Time Norm in Garmen Engineering. Journal of Textile and Apparel : Technology and Managemen (JTATM) Volume 2 Issue 2 Spring 2002. NCStateUniversity

Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s