Menggambar Teknik


Bab 9 .  Cara-Cara Penggambaran Khusus

9.1 Cara menunjukkan bagian yang dikerjakan secara khusus

Bagian-bagian benda tertentu harus dikerjakan secara khusus. Bagian-bagian tersebut dijelaskan oleh garis sumbu tebal sejajar dengan bagian bersangkutan dan diberi jarak sedikit agar jelas,seperti pada gb. 9.1(a) dan (b). Pada benda simetris garisnya tidak perlu di gambar seluruhnya.

9.2 Garis-garis potongan

1. Garis perpotongan yang sebenarnya

Garis perpotongan antara dua permukaan geometrik harus digambar dengan garis gambar jika kelihatan,dan dengan garis gores jika tersembunyi (Gb. 9.2)

 

2. Gambar garis perpotongan yang disederhanakan

  • garis perpotongan antara silinder dengan silinder (Gb. 9.3 (a), (b) )
  • garis perpotongan antara silinder dengan prisma tegak lurus (Gb. 9.3 (c),(d)

Dari contoh diatas,garis-garis perpotongan sedianya lengkung disederhanakan oleh garis lurus,atau boleh dengan busur lingkaran.

 

3. Garis perpotongan khayal

Garis yang terdapat pada pembulatan atau perpotongan antara dua silinder, digambar dengan garis tipis, tidak sampai batas-batas gambar, seperti tampak pada Gb 9.4. Pada Gb 9.5 diperlihatkan benda yang terdiri dari sebuah pelens dan sebuah kerucut pancung dalam dua proyeksi,pandangan depan dan samping.

 

9.3 Gambar bidang datar

Diperlukan keterangan yang menekankan bahwa suatu bagian adalah bidang datar. Dalam gambar yang di tandai oleh diagonalnya, yang di gambar dengan garis tipis (Gb. 9.6). Walaupun bidangnya tersembunyi, macam garisnya sama (Gb. 9.6 (c)). Harus dicatat bahwa suatu segi empat dengan diagonalnya, dalam bidang bangunan dan arsitektur, merupakan lubang (Gb. 9.7)

 

9.4 Gambar benda-benda simetris

Benda-benda simetris dapat di gambar sebagian saja. Garis simetrisnya ditandai oleh dua garis pendek sejajar, tegak lurus padanya (Gb. 9.8). Cara lain ialah bagian benda yang dihilangkan digambar sedikit melalui garis simetrisnya (Gb. 9.9), garis pendek sejajar boleh dihilangkan.

 

9.5 Gambar yang putus-putus

 

Gambar seperti poros panjang dapat di gambar terputus-putus untuk menghemat tempat dan waktu. Garis-garis potongnya di gambar dengan garis tipis dengan tangan bebas atau dengan penggaris diberi zigzag (Gb. 9.10)

9.6 Penyederhanaan gambar dari bentuk-bentuk yang mengulang

Jika suatu bentuk pada benda terdapat berulang kali, biasanya digambar pada tempat penting-penting saja. Tempat-tempat penting artinya:

–          Pada titik potong antara garis sumbu utama dan lingkaran jarak dan satu lagi jika seluruhnya terletak pada lingkaran jarak yang sama  Gb 9.11(a)

–          Di ujung jika seluruhnya terletak pada segiempat Gb 9.11(b)

–          Pada kedua ujung dan satu di sebelahnya, jika seluruhnya terletak pada satu garis Gb 9.11(c)

 

9.7 Bentuk semula/asli

Jika suatu benda dihasilkan dari pembentukan, seperti hasil tekukan yang terdapat pada Gb 9.12,  bentu semula (asli) dari benda itu tidak tampak lagi. Dalam hal demikian bentuk aslinya digambar dengan garis sumbu ( Gb 9.12 ). Cara ini juga dipakai untuk menyatakan bentuk asli dari bahan yang dipergunakan.

Cara yang disebut beakangan ini belum dientukan dalam ISO, tetapi telah dipergunakan oleh beberapa Negara, selain Jepang

9.8 Penggunaan pandangan sebagian

Untuk penghematan waktu menggambar dan tempat, maka jumlah gambar pandangan tambahan yang diperlukan harus dibatasi seminimal mungkin.

Benda pada gambar 9.13 dapat digambar hanya dalam dua pandangan, umpamanya pandangan depan dan pandangan kanan, tetapi hasilnya kurang jelas. Di anjurkan untuk membuat gambar pandangan samping kiri dan kanan hanya sebagai pandangan sebagian.

Ini sebenarnya bertentangan dengan dasar untuk membuat gambar seminimal mungkin, tetapi disini perlu untuk jelasnya gambar.

9.9 Proyeksi putar

Suatu gambar harus memperlihatkan bentuk benda sejelas mungkin. Sebuah elemen seperti sebuah lengan yang diletakkan pada sebuah bos dengan suatu sudut tertentu, pada pandangan depan tidak tampak nyata. Panjang sebenarnya akan tampak lebih pendek. Cara untuk menghindari hal tersebut ialah dengan proyeksi putar. Bagian miring tersebut diputar hingga sejajar dengan bidang proyeksi, baru diproyeksikan. Untuk jelasnya dapat dilihat pada Gb 9.14.

Contoh lain adalah benda pada Gb 9.15 (a). Benda tersebut merupakansebuah rumah bantalan luncur, yang diperkuat dengan empat buah sirip dan ada empat buah lubang untuk pengikat. Sirip dan lubang tidak mungkin diperlihatkan dalam satu pandangan atau atau potongan secara jelas. Gb 9.15 adalah gambar potongan melalui lubang. Pada gambar ini siripnya tidak tampak dalam bentuk yang sebenarnya. Jika dipotong menurut siripnya seperti Gb 9.15 (c), dimana siripnya menurut aturan tidak boleh dipotong, lubangnya tidak kelihatan. Sesuai azaz gambar minimum, jumlah gambar dapat dibatasi dengan mempergunakan proyeksi putar, seperti pada Gb 9.15 (d). Pada gambar ini bendanya dipotong menurut sirip dan lubangnyadiputar sampai pada bidang potong lalu diproyeksikan, atau bendanya dipotong melalui lubang dan siripnya yang diputar sampai bidang potong dan diproyeksikan. Ini tergantung dari letak bendanya.

 

9.10 Penyederhanaan gambar bagian-bagian yang dikartel, jarring kawat, plat bordes, dsb

Cara-cara menggambar bagian-bagian yang dikartel, jaringan kawat, plat bordes, dsb diperlihatkan pada gambar 9.16. Pada gambar hanya digambar sebagian dari pola bentuk-bentuk yang dimaksud.

Pandangan pada Gb 9.16 adalah pandangan depan, dan pandangan sampingnya tidak digambar, karena tidak diperlukan.

9.11 Bagian-bagian berdampingan

Jika pada gambar diperlukan bagian yang ada di sebelahnya, maka bagian tersebut digambar dengan garis tipis. Gambar bagian ini tidak boleh menutupi bagian utamanya ( Gb 9.17). Gambar bagian yang menempel ini tidak diarsir pada gambar potongan.

BAB 10

ATURAN – ATUTRAN DASAR UNTUK MEMBERI UKURAN

Memberi ukuran besaran – besaran geometrik dari bagian benda harus menentukan secara jelas tujuannya dan tidak boleh menimbulkan salah tafsir. Oleh karena itu aturan – aturan dasar untuk member ukuran, yang menentukan cara-caranya tersebut dalam Bab 11, akan dirumuskan disini.

Garis ukur dan garis bantu

Untuk menentukan ukuran sebuah dimensi linear, ditarik garis-garis bantu melalui batas gambar pandangan benda, dan garis ukurnya di tarik tegak lurus-ada pengecualiannya-pada garis bantu (Gb. 10.1) . Sebuah garis ukur, dengan mata panahnya, menunjukkan besarnya ukuran dari suatu permukaan atau garis sejajar dengan garis ukur. Garis bantu dan garis ukur di tarik dengan garis tipis.

Garis bantu ditarik sedikit melebihi, kira-kira 2mm, garis ukur.

Di beberapa Negara seperti Amerika, garis bantu tidak langsung berhubungan dengan garis gambar, tetapi dengan jarak sedikit, untuk membedakan garis gambar dengan garis bantu (Gb. 10.2)

10.2 Tinggi dan arah angka ukur

Angka ukur atau huruf-huruf harus di gambar dengan jelas pada gambar aslinya maupun salinan gambar yang di perkecil. Pada tahun-tahun akhir ini di buat microfilm dari gambar, di besarkan dan di cetak ulang. Walaupun demilian angka-angka atau huruf-huruf tetap harus dapat dibaca dengan jelas.

Oleh karena itu, angka-angka dan huruf-huruf harus digambar sebesar mungkin. Pada peraturan ISO 3098 ditentukan tinggi dan bentuk angka-angka dan huruf-huruf.

Angka-angka dan huruf-huruf harus diletkkan di tengah-tengah dan sedikit di atas garis ukur.

Hampir seluruh ukuran dari gambar yang diperlukan merupakan ukuran horizontal atau vertical. Ukuran yang pertama harus dapat dibaca dari bawah gambar, sedangkan ukuran yang kedua harus dapat di baca dari sebelah kanan gambar, seeperti pada Gb 10.3. Ini berarti bahwa angka ukur horizontal harus terletak di atasgaris ukur, dan ukuran vertical harus terletak sebelah kiri garis ukur. Angka dan garis ukur mempunyai jarak sedikit.

Di beberapa Negara semua angka ukur ditulis mendatar. Dalam hal ini garis ukur vertical diputus di tengah-tengah untuk penempatan angka(Gb.10.4) Dengan demikian semua angka dapat dibaca dari bawah kertas gambar. Cara ini tidak dipakai di Negara kita.

Angka-angka ukur yang tidak horizo

Ntal maupun vertical, harus di tulis sesuai garis ukurnya, seperti tampak pada Gb. 10.5. Sedapatnya ukuran-ukuraan jangan di letakkan di daerah yang di arsir pada Gb. 10.5, yaitu daerah antarasudut 30 derajat.

Ukuran sudut di tulis pada Gb. 10.6 (a) atau (b). Di sini garis ukurnya berupa garis lengkung. Azas dasar yang harus di petahankan di sini ialahbahwa garis ukur harus merupakan garis tulis. Jadi angka selalu di atas garis ukur , kecuali pada Gb 10.6 (b)

 

10.3 Ujung dan pangkal garis ukur

Ujung dan pangkal dari garis ukur harus menunjukkan dimana garis ukur mulai dan berhenti. Ada tiga cara untuk menunjukkan ini, yaitu dengan aanak panah tertutup, garis miring dan titik GB. 10.7. Cara dengan garis miring seperti pada Gb. 7.10(b) banyak dipergunakan dalam bidang sipil dan arsitektur. Dalam bidaang permesinan cara ini tidak di perunakan, bentuk anak panah di tentukan oleh perbaningan panjang daan tebal sebagai 2:1d dan harus dihitamkan.

Tanda itik dipakai bilamana tidak cukup tempat untk mnempatkaan anak panah Ini pada umumnya terdapat ada ukuran berantai, ataupangkal ukuran beruntun b 10.7(c).

10.4 Ukuran dan toleransinya

Angka ukuran yang menunjukkan ukuran benda pada umumnya tidak dapat dipenuhi dengan cepat. Batas-batas ketidaktepatan ini harus di nyatakan dalam gambar juga. Cara-caranya diperlihatkan pada Gb. 10.8

  1. Ukuran dengan toleransinya, yang ditentukan dalam ISO 2768 “Penyimpangan ukuran yang diizinkan pada pengerjaan dengan mesin tanpa penentuan toleransinya” (Gb. 10.8 (a))
  2. Ukuan dengan ketentuan toleransi linear (Gb.10.8(b))
  3. Ukuran dengan lambing toleransi, yang menentukan toleransi, sesuai ISO/R286”Sistim ISO tentang batas dan suaian : Bagian I Umum, toleransi dan penyimpangan “ (Gb. 10.8 (C))
  4. Ukuran teoritis tepat tanpa toleransi linear, yang di tentukan oleh ISO 1101/I”Toleransi bentuk dan posisi : Bagian I Umum, penunjukkan dalam gambar”. Dalam hal ini toleransi posisi harus diterapkan pada posisi yang telah ditentukan oleh ukuran ini.
  5. Ukuran yang biasanya tanpa toleransi; dipakai hanya sebagai bahan informasi(Gb.10.8(e)). Ini disebut dimensi referensi dan tidak menentukan operasi produksi atau pemeriksaan. Sebua dimensi referensi di turunkan dari nilai-nilai yang tercantum dalam gambar atau gambar-gambar yang mempunyaihubungan (Lih 10.5)

10.5 Dimensi fungsional, dimensi tidak fungsional dan dimensi tambahan

Gb. 10.9 memperlihatkan sebuah tuas(link) yang dihubungkan pada sebuah benda dengan sebuah pen. Ukuran-ukuran pen ditentukan seperti pada Gb 10.10 (a) . Sesuai fungsi susunan tersebut, ukuran-ukurannya di bagi dalam golongan-golongan : ukuran-ukuran fungsional F, ukuran – ukuran bukan fungsional NF dan ukuran-ukuran tambahan Aus.

  1. Suatu dimensi fungsional adalah ukuran yang diperlukan untuk fungsi dari bagian atau komponen, umpamanya bagian-bagian yang disusun, cara kerja dari bagian, dsb.
  2. Suatu dimensi bukan fungsional adalah ukuran tidak langsung mempengaruhi fungsi secara prinsipil.
  3. Suatu dimensi tambahan adalah dimensi yang telah disebut pada bagian sebelumnya. Ukuran ini diberikan dalam tanda kurung tanpa toleransi, hanya sebagai bahan informasi.

10.6  Satuan-satuan

Semua ukuran dalam gambar harus ditulis dalam satuan yang sama. Dalam sistim satuan S.I satuan panjangadalah millimeter (mm). Jika diperlukan penggunaan satuan lain, lambing dari satuan yang dipakai harus ditambahkan di belakang angka, atau diberi catatan yang menerangkan satuan yang dipakai.

Ukuran sudut pada umumnya dinyatakan dalam derajat dan jika perlu juga dalam menit dan detik. Ini di nyatakan oleh lambing-lambang.

10.7 Tanda decimal

Tanda decimal harus diletakkan setinggi dasar angka dan harus tampak jelas sebagai tanda decimal dipakai koma.

Jika terdapat lebih dari empat angka disebelah kiri atau kanan angka, tidak perlu di beri tanda lain setelah tiap tiga angka.

Contoh : 125,35;12,00;12120.

 

BAB 11. CARA-CARA MEMBERI UKURAN

Pada dasar yukuran-ukuran linear harus diperinci oleh garis bantu, garis ukur dan angka ukur. Jika antara garis bantu terlalu sempit untuk menempatkan anak panah, anak panahnya dapat diganti dengan titik.dalam hal ini dianjurkan untuk membuat gambar detil yang diperbesar. Dengan demikian ukuran-ukurannya dapat diberikan dengan jelas pada gambarnya .

(a)    Angka-angka atau huruf-huruf harus diletakan kira-kira di tengah-tengah dan sedikit diatas garis ukur, seperti yang sudah diuraikan pada bagian. Angka ukur tidak boleh di potong atau dipisahkan oleh garis gambar lain. Jika dianggap perku angka ukur boleh ditempatkan di pinggir, supaya jelas.

(b)   Jika angka ukur harus ditempatkan pada bagian yang diarsir, arsirnya harus dihilangkan untuk memberitempat untuk angka.

(c)    Dalam keadaan-keadaan tertentu angka ukur dapat ditempatkan agak dekat ditempat salah satu anak panah, untuk mencegah bertumpuknya angka-anhka ukur, dan jika terdapat banyak ukuran, garis ukurnya boleh ditarik hanya sebagian agar angka ukurnya tidak terlalu jauhdari bagian yang diberi ukuran.

(d)   Pada bagian-bagian yang sempit angka ukurnya dapat ditempatkan diluar garis ukur. Untuk ini garis ukurnya diperpanjang kesebelah kanan, dan angka ukurnya diatas garis perpanjangan ini.

Jika dua bidang miring berpotongan dan bagian yang lancip ini kemudian dibulatkan atau dipotong, ukuran harus diberikandengan bantuan garis bantu khusus. Yang dimaksud garis bantu khusus, tidak lain adalah garis-garis perpanjangan bidang-bidang miring yang bersangkutan. Titik potong dari garis-garis bantu khusus ini yang akan menentukan ukuran yang menentukan bentuk benda.

Untuk penghematan waktu dan tempat, gambar benda  simetri boleh digambar separoh saja. Dengan demikian garis ukurnya tidak digambar lengkap pula.

Lambang diameter letakkan di depan angka ukur, dan menyatakan sekaligus bentuk permukaan yang bersangkutan. Lambang ini harus ditulis sama besar dengan angka ukur. Dengan mempergunakan lambang ini, gambar pandangan samping tidak diperlukan lagi. Jika bentuknya sudah tampak jelas pada gambar, lambang tersebut tidak perlu dipakai lagi.

Ukuran busur ditentukanoleh jari-jari ini merupakan garis ukur diman angka ukurnya harus diletakkan, dengan huruf ”R” di depannya. Disini garis ukurnya hanya mempunyai satu anak panah, sedangkan ujung yang lain adalah titik pusat busur tersebut. Untuk jari-jari yang besar, dimana titik pusatnya terletak diluar kertas gambar, garis ukurnya dapat dipotong dan digambar atau ditekuk. Disini titik pusatnya tidak perlu didtinjukan. Huruf “R”  harus ditempatkan didepan angka ukur, sebesar angka ukur. Jika garis ukurnya terlalu pendek untuk penempatan angka ukur. Anak panah garis ukur diletakkan di dalam, jika perpanjangannya kedalam, dan diletakkan diluar jika perpanjangannya keluar.

Bentuk benda bujur sangkar hanya dapat diperhatikan pada pandangan tertentu saja. Tidak jelas dari  busur gambar,maka dengan mempergunakan lambang bujur sangkar dapat dihemat gambar dan waktu.

Jari-jari atau diameter dari bentuk bola, yang dalam gambar hanya tampak sebagai lingkaran atau busur lingkaran. Hal ini ditentunya tidak perlu bila gambarnya dibuat dengan skala tertentu. Artinya bila gambar dibuat dengan skala 1:5 , ukuran 50 mm, pada gambar harus menjadi 10 melainkan 15 mm, maka ukuran terakhir ini harus digaris bawahi dengan garis sumbu tebal.

 

 

 

 

Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s